Waru adalah contoh film yg tadinya mau dibikin jadi FTV aja, tapi dikasih budget lebihan dikiiiiitttt lagi dan akhirnya sutradara memutuskan utk membuatnya jadi film bioskop saja.
Visual ala Ftv, setting ala FTV, dialog ala FTV, dan aktor-aktornya mengucapkan dialog sambil seluruh badannya kaku dan tegang ala pemain FTV.
Ndilalah, tambahan budget minimalis tadi dipake utk bayarin 2 aktor malaysia (spy agak keren dikit filmnya, “eh ada pemain film Malaysia”, begitu komentar penonton), sama bayarin CGI tipis2. Hal ini menyebabkan budget gak cukup untuk beli props yg proper untuk dipake dalam film. Contohnya, karena budget kurang, props yg dipake utk menebang pohon waru tua berusia ratusan tahun dan berbatang tebal, adalah kapak kecil, yg buat motong kayu bakar mungil aja gak cukup kuat. Dana buat beli gergaji listrik gak cukup soalnya. Dan akibat nggaji dua aktor malaysia, editornya digaji kecil kali ya makanya editingnya jelek banget, ala FTV. Kalau saja cuma pakai 1 aktor Malaysia, mungkin masih cukup buat naikin gaji editornya.
Tapi anw, twist di ujung cukup bagus, topiknya ala film horor Suzanna 80-an, yaitu wanita korban pelecehan yg balas dendam dengan cara mistis. Tapi Ya Tuhan, jalan menuju ending ini sangat gak jelas blas.