Betapa film ini menutupnya dengan rasa suspens juga rasa keraguan yang sangat kuat pada kehati-hatian.
Dari ketidaksengajaan menabrak anjing yang menyebrang saat malam hari hingga menewaskannya, justru membawa kita pada pemaknaan terhdap sifat manusia Si opresor dan opressed.
Bagaimana mereka yang pernah menjadi korban dihadapkan pada responsnya masing-masing atas trauma. Jafar Panahi membawa kita untuk memahami lagi istilah ""anarkisisme"" pada pengertian yang bukan sekadar amok atau kekerasan.
Melalui komedi situasional, ia justru menjadi satir terhadap institusi, ideologi, dan kemanusiaan. Film ini tidak menghukum perbuatan ""kekerasan"" bagi mereka yang teropresi kepada opresornya, tetapi di saat yang bersamaan menyatakan tindakan anarkis juga dilakukan melalui cara-cara lain dengan tujuan untuk menghapuskan pelanggengan otoritas. Humanisme menjadi tema besarnya, ketika segala bentuk represi institusi tidak serta merta menjadikan korbannya menjadi bukan lagi manusia. Namun, pelaku opresilah yang benar-benar telah kehilangan jati dirinya sebagai manusia dengan menjual dogma-dogma agama dan membawa neraka. Adegan klimaks introgasi menjadi titik pencerahan ketika kesadaran hadir dalam bentuk di antara humanis dan anarkis.
Dipilih bukan hanya sebatas ""hukum Allah"" lebih adil, melainkan lebih menekankan pada penghapusan bentuk otoriterian yang langgeng melalui kekerasan. Pada akhirnya, film ini menjadi refleksi pada keadaan dunia yang semakin opresif dalam kekeresannya. Melihat ke belakang pada keadaan negri dengan embel-embel ""anarkis"" sebagai sesuatu yang amoral.
Menjadi konklusi yang tepat, bukan hanya sebagai festival, tetapi juga aktual.
*Ditonton di JWC 2025