Kabut pegunungan Papua menyelimuti kehidupan Maira (Elisabet Sisauta), gadis yang tumbuh bersama lagu, dongeng, dan kebijaksanaan alam. Baginya, hutan adalah rumah—warisan yang tak tergantikan. Ketika Tegar (M. Aldifi Tegarajasa), anak kota, datang untuk mencari jejak cerita hutan yang pernah diceritakan mendiang kakeknya, pertemuan mereka perlahan berubah menjadi persahabatan yang tak terduga. Namun keindahan itu dibayangi kenyataan: hutan tempat Maira hidup sedang terancam oleh ekspansi besar. Perjalanan mereka—yang bermula dari rasa ingin tahu pada burung cendrawasih—berubah menjadi keberanian untuk menjaga sesuatu yang lebih besar dari diri mereka. Dengan musik Papua dan lanskap yang sinematik, film ini mengajak keluarga merasakan hangatnya persahabatan—dan mendengar “bisikan” alam sebelum semuanya terlambat.