Pada awal 1970-an, kediktatoran militer di Brasil mencapai puncaknya. Keluarga Paiva—Rubens, Eunice, dan lima anak mereka—tinggal di sebuah rumah di tepi pantai di Rio yang selalu terbuka bagi teman-teman mereka. Suatu hari, Rubens dibawa untuk diinterogasi dan tidak pernah kembali.
Nonton I’M STILL HERE sebagai warga dari negara yang juga memiliki sejarah kelam akan kediktatoran di masa lampau (with hints of a return to authoritarianism in the current era?), jelas akan membuat menghela napas (lumayan panjang). Penghilangan paksa dan penindasan terhadap keberadaan perbedaan pendapat atas dalih anti-komunisme? We remember it all too well.
Walter Salles membuka filmnya dengan gambaran hangatnya sebuah keluarga di Brazil - dengan latar rasa kekhawatiran pasca terbentuknya junta militer di Brazil pada tahun 1964. Ketika plot tentang “penjemputan” anggota keluarga oleh pihak militer mulai mengambil alih alur cerita, kehangatan tersebut tergantikan dengan kesan muram.
Fokus yang dibangun utuh pada tiap karakter membuat ‘I’m Still Here’ mampu memiliki sentuhan emosional yang kuat. Arahan Salles juga memastikan kesan ketegangan akan hidup dibawah opresi militer tidak pernah memudar. Pencapaian tersebut dibantu dengan penampilan brilian Fernanda Torres yang tidak pernah terasa meledak dan “showy,” namun terus menunjukkan sikap resistensi dan tidak pernah menyerah dari karakter yang ia perankan.
Tidak heran jika rasa duka yang disampaikan dapat terus membekas, bahkan jauh setelah filmnya usai.