Desa Latas, sebuah desa kecil di pinggiran kota, dikenal dengan pesta kerasukan, sebuah tradisi turun-temurun yang sudah lama jadi bagian dari kehidupan dan hiburan warganya. Ketika mata air keramat tempat para Perasuk mencari roh mulai terancam digusur, Bayu (Angga Yunanda) bertekad buat jadi Perasuk Utama yang akan memimpin pesta besar-besaran demi mengumpulkan dana untuk menebus kembali mata air itu. Tapi di tengah perjalanannya, Bayu sadar bahwa ambisi saja tidak cukup buat menjadikannya Perasuk sejati, apalagi buat menyelamatkan desa yang ia cintai.
Cara unik untuk menceritakan kegelisahan tentang politik dan kekuasaan melalui media yang jarang banget digunakan oleh sineas di Indonesia.
Wregas menceritakan gimana sebuah ritual local bisa membawa kita memahai keresahan warga desa yang lahannya akan digusur atas nama modernisasi.
Bayu yang berusaha agar tetap tinggal di desa Latas harus bisa meyakinkan sang Ayah lewat pesta Sambetan yg mana pada saat itu sedang ada pemilihan Perasuk.
Ini adalah perjalanan spiritual Bayu dan mencar jawaban atas masalah-masalah yg terjadi pada Bayu dan desa Latas.
Yang gue suka dari Para Perasuk adalah bagaimana sebuah isu yg besar mampu dibawakan dengan ringan dengan simbolisme yang gak terlalu kentara namu kita bisa tahu maksudnya.
Penampilan semua castnya juga bekerja dengan baik, Angga sekali lagi membuktikan bahwa dia memamg mampu memerankan Bayu begitu juga Anggun sebagai Guru Asri yang luar biasa memukau.
Diawali dengan bersenang-senang, kemudian masuk ke ranah yang lebih serius, sepanjang film ada kesenangan tersendiri melihat upacara ritual sambetan hingga bersimpati dengan karakter2 yang memiliki kelemahan masing-masing
Salah satu film eksperimental yg mungkin tidak banyak yg suka, tapi sekalinya hook dengan filmnya ini jadi pengalaman yang gak akan terlupakan.