Di rumah berhantu, penghuninya bisa kabur. Di gedung yang berhantu, penghuninya bisa kabur. Ketika hantu muncul di Lembaga Pemasyarakatan Labuan Angsana, tentu saja para penghuninya tidak bisa ke mana-mana. Sial.
Dalam sebuah konteks film komedi yang dibalut horror atau sebaliknya, Ghost in the Cell bisa ngiket dua genre itu pake sentilan politik yang vulgar. Kalau isunya ditampilan hanya surface-nya saja ya mungkin memang perlu kehati-hatian dalam memaparkannya.
Sepanjang film bergulir, kita dijejeli fakta yg selama ini sudah terpampang nyata, tentang kekuasaan yg korup, ketimpangan sosial hingga keadilan yang belum juga tercapai.
Labuhan Angsana adalah versi kecil dari Indonesia dengan segala masalahnya.
Jajaran cast grade A, dialog yg enak tektokan satu sama lain hingga sentilan lewat jokes yg tepat sasaran. Ditambah setting dan sound yang menunjang emang bikin film ini layak dikasib apresiasi dari segi teknisnya.
Desain Produksinya cakep parah sih.
Shout out kepada Magistus Miftah yang meski screen timenya ga banyak tapi ngasih impact kuat ke filmnya.
Aming juga dengan range akting dia yg emang udah kebukti he can do anything dengan role yg dia maenkan.
Easter eggs dan korelasi ke film Joko Anwar yang lain? Banyak.
But lets keep it. Nikmati dulu aja kegilaan mereka.
If you loved Pintu Terlarang, lo akan tahu ke mana arahnya film ini. Apalagi kata Jokan kalau filmnya ditulis 2013. 4 tahun setelahnya. ðŸ¤