Mega, mantan atlet Pencak Silat yang kariernya berakhir akibat cedera permanen, kini bekerja sebagai pelayan restoran untuk menghidupi dirinya dan ibunya. Kehidupannya semakin kacau ketika para preman datang menagih utang besar yang diam-diam dibuat oleh kakaknya, Bilal. Saat Mega meminta bantuan sahabat lamanya, Dini, Bilal panik dan membunuh sang rentenir, Henri. Kematian Henri memicu perburuan brutal yang dipimpin kakaknya, Primbon, bersama seluruh kelompoknya. Dengan Bilal bersembunyi dan bahaya kian mendekat, Mega mempertaruhkan segalanya untuk menyelamatkannya.
Ikatan Darah membangun fondasinya dengan sabar, merangkai latar belakang karakter sebelum akhirnya melepas rem di fase konflik. Begitu eskalasi dimulai, aksi brutalnya terasa semakin intens dan memuaskan, diperkuat dengan setting kampung yang hidup dan memberi nuansa realistis pada keseluruhan film.
Dari sisi visual, beberapa pengambilan gambar terasa sangat satisfying dan terukur dalam membangun tensi. Namun, sayangnya momentum tersebut sedikit terganggu oleh bagian akhir yang mulai terasa kendor dan cenderung berlebihan.
Penampilan Teuku Rifnu Wikana sebagai Primbon layak mendapat standing applause, penuh totalitas dan karisma. Sementara itu, karakter Macan tampil sebagai sosok yang benar-benar badass dan meninggalkan kesan kuat.
Mengetahui film ini disutradarai oleh Sidharta Tata, semuanya terasa masuk akal. Ikatan Darah seperti perpaduan antara Pertaruhan The Series dan The Raid; keras, intens, dan penuh energi.