Desa Latas, sebuah desa kecil di pinggiran kota, dikenal dengan pesta kerasukan, sebuah tradisi turun-temurun yang sudah lama jadi bagian dari kehidupan dan hiburan warganya. Ketika mata air keramat tempat para Perasuk mencari roh mulai terancam digusur, Bayu (Angga Yunanda) bertekad buat jadi Perasuk Utama yang akan memimpin pesta besar-besaran demi mengumpulkan dana untuk menebus kembali mata air itu. Tapi di tengah perjalanannya, Bayu sadar bahwa ambisi saja tidak cukup buat menjadikannya Perasuk sejati, apalagi buat menyelamatkan desa yang ia cintai.
Ceritanya stuck, tidak bergerak kemana2 di 3/4 awal. Tensi mulai naik menjelang 1/4 akhir film ketika cerita mulai terasa kelam.
Menautkan perasuk dengan storyline struggle kalangan desa pinggiran menjadi bumerang bagi film ini karena kedalaman storyline perasuknya jadi memble dan tergantikan dgn cerita struggling warga desa yang tergusur kapitalisme tanpa ada kedalaman cerita. Hasilnya, nanggung.
Wregas mungkin ingin ceritanya lebih relate dengan kondisi masyarakat pinggiran tapi yang diinginkan penonton adalah cerita kearifan perasuk, yang baru muncul di 1/4 akhir film tapi sudah terlambat dan terasa di jejelin secara buru2.
Yang cukup baik di film ini adalah akting Angga, walau di awal film dia masih kelihatan seperti anak jaksel, tapi sejalan cerita aktingnya semakin memikat.
Overall, cukup mengecewakan. Mid at best.