Di tahun 2100-an, ketika krisis air mengancam masa depan Bumi, Pelangi—anak pertama yang lahir di Mars—memulai sebuah petualangan bersama robot-robot malfunction yang menjadi sahabatnya untuk menemukan Zeolit Omega, mineral langka yang dipercaya dapat menyelamatkan masa depan Bumi. Namun dalam perjalanannya, Nerotek—korporasi raksasa yang menguasai sumber air—melakukan segala cara untuk merebut penemuan tersebut.
Pelangi di Mars patut diapresiasi karena berani mengangkat tema sci-fi space exploration, sebuah langkah yang menjanjikan untuk perfilman anak lokal. Sayangnya, ambisi tersebut terasa belum sepenuhnya terbayar karena eksekusi ceritanya masih berantakan, meski cukup tertolong oleh visual efek yang lumayan memadai walaupun belum sempurna.
Namun perspektif saya berubah ketika melihat reaksi penonton utamanya: anak-anak. Bagi mereka, plot yang sederhana dan tema persahabatan dengan robot luar angkasa justru terasa menyenangkan dan mudah dinikmati.
Jadi pada akhirnya, meskipun sebagai penonton dewasa ada catatan teknis yang mengganjal, kebahagiaan anak-anak saya saat menonton menjadi penilaian paling jujur, as long as they’re happy, so am I.