Ketika James menerima sebuah surat misterius dari cinta lamanya, Mary, ia terdorong untuk kembali ke Silent Hill—sebuah kota yang dulu ia kenal, namun kini diliputi kegelapan. Dalam pencariannya, James berhadapan dengan makhluk-makhluk mengerikan dan mengungkap kebenaran yang akan mendorongnya ke ambang kewarasannya.
Return to Silent Hill terasa seperti nostalgia berkat detil set, creatures, dan shot yang familiar, tetapi di saat bersamaan terasa sangat berbeda dari film Silent Hill yang juga digarap Christophe Gans. Elemen horor di Return to Silent Hill lebih minim ketegangan intens, karena memang berfokus pada drama-romansa dan perjalanan emosional karakter. Penutup Return to Silent Hill pun tidak begitu mengandalkan kebrutalan dan darah melainkan sebuah refleksi yang penuh simbol dan menenggelamkan. Sebuah akhir yang sempurna--jika ingin dibandingkan, lebih dewasa daripada Silent Hill. Thank you, Christophe Gans, for making Return to Silent Hill our special place for the most heartbreaking, yet sweetest love story. We're waiting for the director's cut.
Love, me.