Terpasung karena sering kerasukan dan mengancam nyawa keluarganya, Lydia (Dewi Amanda) memohon Nadine (Bella Graceva) untuk memusnahkan pohon terkutuk di kampung halaman orang tuanya tempat bersemayam jin jahat yang dikenal sebagai Iblis Waru. Namun pesan terakhir Lydia dianggap omong kosong orang sakit, hingga kematiannya justru memicu teror mengerikan yang menghantui Nadine, Adrian (Zikri Daullay), Anya (Jinan Safa), dan Haqi (Sean Mikhail). Didorong rasa bersalah dan teror yang semakin nyata, mereka pergi ke rumah tua peninggalan kakek-nenek Nadine di tengah hutan, mencari pohon terkutuk tersebut. Di sana, gangguan mistik kian menjadi, termasuk kemunculan sosok nenek gaib yang ternyata adalah perwujudan Iblis Waru yang berusaha menggagalkan niat mereka. Penemuan surat perjanjian pesugihan beraksara Jawa kuno mengungkap kebenaran mengerikan: Lydia pernah mengikat perjanjian dengan Iblis Waru, menukar kemakmuran dengan tumbal kepala manusia setiap tahun. Kedatangan Reza (Josiah Hogan) dan Sarah (Syarifah Husna) memperdalam konflik, ketika terungkap bahwa perjanjian itu dibuat demi kesejahteraan keluarga setelah perceraian. Kini, satu-satunya jalan keluar adalah memusnahkan pohon terkutuk yang memiliki kekuatan gaib tersebut sebelum Iblis Waru menagih tumbal berikutnya.
Waru adalah contoh film yg tadinya mau dibikin jadi FTV aja, tapi dikasih budget lebihan dikiiiiitttt lagi dan akhirnya sutradara memutuskan utk membuatnya jadi film bioskop saja.
Visual ala Ftv, setting ala FTV, dialog ala FTV, dan aktor-aktornya mengucapkan dialog sambil seluruh badannya kaku dan tegang ala pemain FTV.
Ndilalah, tambahan budget minimalis tadi dipake utk bayarin 2 aktor malaysia (spy agak keren dikit filmnya, “eh ada pemain film Malaysia”, begitu komentar penonton), sama bayarin CGI tipis2. Hal ini menyebabkan budget gak cukup untuk beli props yg proper untuk dipake dalam film. Contohnya, karena budget kurang, props yg dipake utk menebang pohon waru tua berusia ratusan tahun dan berbatang tebal, adalah kapak kecil, yg buat motong kayu bakar mungil aja gak cukup kuat. Dana buat beli gergaji listrik gak cukup soalnya. Dan akibat nggaji dua aktor malaysia, editornya digaji kecil kali ya makanya editingnya jelek banget, ala FTV. Kalau saja cuma pakai 1 aktor Malaysia, mungkin masih cukup buat naikin gaji editornya.
Tapi anw, twist di ujung cukup bagus, topiknya ala film horor Suzanna 80-an, yaitu wanita korban pelecehan yg balas dendam dengan cara mistis. Tapi Ya Tuhan, jalan menuju ending ini sangat gak jelas blas.