Tujuh tahun sebelum gerbang Saranjana terbuka, cinta Rusmiati (Putri Intan Kasela) dan Badri (Rio Dewanto) runtuh ketika tekanan adat dan ramalan buruk memaksa Rusmiati mencari jalan gelap: ajian Kuyang. Keputusannya memicu teror yang menghantui bayi dan perempuan hamil, sementara identitasnya perlahan terkuak. Saat amuk massa siap menelan segalanya, Badri harus memilih antara cinta yang ia pertahankan, atau masyarakat yang menuntut darah. Mampukah cinta mereka bertahan ketika kegelapan mulai merenggut segalanya?
Baru kali ini ada film horor yg lempeng kayak jalan tol. Plotnya jalan terus tanpa ada tensi. Ada si naik tensi dikit menjelang akhir, tapi naiknya dikit banget kayak dari 0 naik ke angka 3.
Ceritanya berkutat seputar pernikahan Rusmiati dgn Badri yg sepertinya dirundung malang terus sampai akhirnya Rusmiati mengambil keputusan fatal utk memperbaiki pernikahannya.
Maksud sutradara menggabungkan folk lore lokal dgn cerita drama pernikahan yg disukai emak2 dan latar belakang Banjarmasin dgn kearifan budayanya. Story development ada, tapi tensi cerita tidak ada. Sejam pertama masih enak diikuti, sejam berikutnya terasa boring. Rio Dewato memainkan peran paling boring sepanjang karirnya, yaitu sebagai suami yg tampan dan baik hati yg sepanjang film hanya senyam senyum kayak bintang iklan pasta gigi.
Kebalikan dari film Kafir sekuel yg sepanjang film dipenuhi teror demi teror tanpa ada story development, Kuyank memiliki perkembangan cerita yg lumayan tapi tidak dibarengi dengan tensi cerita sama sekali.