Setelah kematian mendadak kakak-kakaknya, seorang arsitek muda yang sedang berjuang tiba-tiba menjadi orang tua tunggal bagi keponakannya. Ketika kesempatan untuk kehidupan yang lebih baik muncul, ia harus memilih antara kehidupan cintanya, kariernya, atau keponakannya.
Kembali mengadaptasi karya Arswendo Atmowiloto, Yandi Laurens tetap bisa mengolah rasa di #1Kakak7Ponakan dengan caranya yang lebih tenang dan rendah hati. Tanpa konflik yang meletup-letup, film ini mampu bermain dengan perasaan diperkuat lewat akting Chicco Kurniawan yang subtil tapi keluh kesahnya tersampaikan.
Menonton film ini memang rasanya seperti mengintip kehidupan sebuah keluarga lebih saksama dan ansambel pemainnya berhasil 'membangun' dinamika itu dengan nyata. Naik-turunnya, suka-dukanya, 131 menit di #1Kakak7Ponakan ini rasanya dekat dan bisa saja ditemui di sekitar kita.
Membangun pondasi film ini perlahan agar bangunannya lebih kuat dengan segala hal yang diperhatikan untuk bisa memberikan dampak emosi yang luar biasa, layaknya karakter Moko sebagai arsitek yang memperhatikan bangunan yang aman untuk keluarga 'besarnya' yang butuh ruang untuk berkembang.