Na Willa (Luisa Adreena) mengisahkan Willa, gadis kecil enam tahun yang percaya dunia kecilnya di sebuah gang di Surabaya adalah tempat paling sempurna dan magis. Tempat di mana lagu dari radio terasa hidup, kios langganan yang selalu penuh kejutan, dan setiap hari adalah hari untuk bertualang bersama teman-temannya. Namun ketika sahabatnya mengalami kecelakaan dan satu per satu teman bermainnya mulai masuk sekolah, dunia Willa perlahan berubah dan terasa semakin sepi, membuat Willa bertekad mengikuti teman-temannya ke bangku TK, dengan harapan semua bisa kembali seperti semula. Masuk sekolah justru membuka dunia baru yang terasa asing: penuh aturan, batasan, dan rasa tidak dimengerti. Di sanalah Willa perlahan belajar bahwa tumbuh berarti berdamai dengan perubahan. Bahwa keajaiban tidak selalu hilang hanya berpindah tempat.
Na Willa sukses mengcapture dunia dari kacamata anak yang polos dan tidak judgmental. Banyak nyengir dan ketawa ketiwi mostly bukan cuma karena bisa ngelihat sisi anak kecil di diri Na Willa, tapi juga karena penggambaran orang tuanya juga relatable sama penonton generasi milenial yang udah punya anak. Visualnya cantik dan momen musikalnya lebih musikal daripada film yang sedari awal ngebranding kalo dirinya adalah film musikal. Well done!