Di tengah masa remajanya, RAMA (16), seorang remaja pemberontak, memandang dunia sebagai musuh. Keyakinannya bahwa semua orang menentangnya hanya mereda berkat kehadiran ibunya—satu-satunya sekutu yang ia miliki dalam hiruk-pikuk kehidupan remaja. Namun, ketika tragedi menimpanya dan merenggut sosok yang paling ia andalkan, Rama dipaksa menghadapi kehidupan seorang diri. Dalam kesendiriannya yang baru itu, muncul secercah ketenangan melalui kehadiran i-BU—sebuah program AI buatan temannya yang dirancang menyerupai kehangatan dan kenyamanan sosok sang ibu.
Tema yang ditawarkan bukanlah hal yang baru, tapi sebagai film Indonesia yang berusaha meleburkan cerita keluarga berduka dengan teknologi masa depan tentu jadi sebuah penyegaran di tengah film-film drama keluarga lokal yang ada. As always, akting Ringgo sebagai bapak sangat relatable, tapi Ali Fikry sebagai sang anak yang berduka adalah bagian terbaik dari Esok Tanpa Ibu.