Mega, mantan atlet Pencak Silat yang kariernya berakhir akibat cedera permanen, kini bekerja sebagai pelayan restoran untuk menghidupi dirinya dan ibunya. Kehidupannya semakin kacau ketika para preman datang menagih utang besar yang diam-diam dibuat oleh kakaknya, Bilal. Saat Mega meminta bantuan sahabat lamanya, Dini, Bilal panik dan membunuh sang rentenir, Henri. Kematian Henri memicu perburuan brutal yang dipimpin kakaknya, Primbon, bersama seluruh kelompoknya. Dengan Bilal bersembunyi dan bahaya kian mendekat, Mega mempertaruhkan segalanya untuk menyelamatkannya.
Dari sisi karakter protagonis, dan juga penanganan adegan aksinya, film ini ditanganin dengan kompeten, pergerakan kamera yang lebih stabil tanpa efek goyang-goyang tapinya akan membuat adegan-adegan aksinya terasa lebih apik.
Tapi, nampaknya Sidartha terjebak dalam trope: A hero is only as good as it's villain, karena dia menghabiskan banyak durasi film menunjukkan adegan keberingasan karakter-karakter musuh di film ini, rasanya seperti kurang percaya dengan desain dan karakteristik musuh-musuhnya yang sudah tergambarkan dengan unik, bahkan desain tokoh protagonishnya bisa dibilang sederhana sekali dibanding musuh-musuhnya
Buat saya, lebih menarik menonton trio protagonis Mega, Bilal, dan Dini bersama sama bertahan hidup dari anggota-anggota geng yang ingin membunuh mereka, di awal menuju rentetan adegan aksinya, bahkan para anggota geng ini diperlihatkan datang dengan berbagai jenis kendaraan motor dan mobil, akan menarik melihat trio ini berhadapan dengan musuh dengan peralatan yang lebih beragam tidak hanya sebatas senjata tangan
Plus, ketika melihat Mega Dini dengan warna baju mereka masing-masing, mengingatkan saya pada game masa kecil Double Dragon, tapi ini versi perempuannya