Di rumah berhantu, penghuninya bisa kabur. Di gedung yang berhantu, penghuninya bisa kabur. Ketika hantu muncul di Lembaga Pemasyarakatan Labuan Angsana, tentu saja para penghuninya tidak bisa ke mana-mana. Sial.
Beginilah cara yang baik untuk menghina pemerintah dengan cara yang liar dan menyenangkan!
Ghost in the Cell tampil sangat menyenangkan, terlepas dari adegan ataupun dialognya yang beberapa masih terkesan cringe dan awkward. Suka sekali dengan bagaimana ide dan cara Joko meninterpretasikan sosok "hantu" difilmnya dan bagaimana ia berhasil mengelaborasikan banyaknya genre (horror, komedi, slasher) dengan baik difilmnya. Terlebih pada bagian slashernya yang kreatif dan diriku suka sekali dengan keputusan dan hasil dari setiap adegan "menghias tubuh" yang beruntungnya bukan hanya sekedar tempelan saja unsur politik pada naskahnya juga tak terasa berat tapi cukup menyentil.
Ghost in the Cell juga punya ansambel cast yang bermain dengan baik, Abimana, Danang, Sardi, Mike terlebih Aming tampil sangat baik dan berkesan walau agak disayangkan menurutku karakter Tokek kurang tertulis dengan baik. Rasanya kurang sreg saja melihat karakternya yang cabul tanpa mengetahui latar belakang jelas karakternya, padahal karakter-karakter lain latar belakangnya cukup terjelaskan.
Terlepas dari beberapa momen yang masih terasa awkward, cringe, Ghost in the Cell masih menjadi tontonan yang menggeltik namun juga masih berisi dengan kemasannya yang menyenangkan dan menarik untuk ditonton.