image

Ghost in the Cell

D
Horror | Comedy
8.0
Critic Score
7.4
Audience Score
Movie Info

Di rumah berhantu, penghuninya bisa kabur. Di gedung yang berhantu, penghuninya bisa kabur. Ketika hantu muncul di Lembaga Pemasyarakatan Labuan Angsana, tentu saja para penghuninya tidak bisa ke mana-mana. Sial.

Genre :Horror, Comedy
Original Language : Indonesian
Director :Joko Anwar
Producer:Tia Hasibuan
Writer:Joko Anwar
Cast:
Abimana Aryasatya, Aming, Arswendy Bening Swara, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Dewa Dayana, Endy Arfian, Kiki Narendra, Lukman Sardi, Morgan Oey, Rio Dewanto, Tora Sudiro
Release Date:16 Apr, 2026
Runtime: 0 Hours 0 Minutes
Production Co:Come and See Pictures



Where To Watch
xxl-logo


Audience Review

1
Ghost in the Cell Score
Apr 16, 2026
icon
Fadhal Albama

Trigger Warning: Sexual Assault, Homophobia

Untuk film seberat ini, perlu sekali mencantumkan peringatan pemicu khususnya adanya adegan kekerasan seksual, gore trypophobia (meski sudah terlihat di poster maupun trailer), dan pelanggengan homofobia.

Ghost In The Cell (2026) film ke-12 Joko Anwar, whoooah, where do I start

Mungkin di sini gw mau bahas si sosok “hantu” dulu deh

Oke siapa sosok hantu di sini? Kenapa dia bunuh-bunuhin orang?

Narasinya sederhana, dia hantu yang “kreatif” punya bayangan artistik dan menjadikan korbannya sebagai “karya seni,” aturannya orang yang auranya negatif—awalnya yang merah darah, tapi yang coklat keruh juga, eh tapi yang merah darah lagi si—yang dibunuh, buat makanan katanya, tapi tujuan utamanya tokoh gede.

Gw mau narik ke film Setan Alas! (2023) dari Yusron Fuadi yang baru tayang kemarin di bioskop. Dari meta-sinema-nya kita bisa belajar bagaimana tanggung jawab pembuat film, khususnya penulis dan sutradara terhadap karakternya. Bagaimana karakter-karakter dari Setan Alas! Bisa tiba-tiba menangis karena secarik latar belakang character sheets separagraf yang baru saja ditulis 5 menit lalu, tapi tiba-tiba dia harus mati—di bunuh hantu, dikejar zombie, dsb. Oh betapa jahatnya penulis diriku…

Well, mari kita balik ke GITC. Hmmmmmmmmmm, how do I say it?

Sutradara dan penulis di sini bersifat seperti “hantu.” Ialah sosok liyan, empunya agensi. Dalam menciptakan “karya seni”-nya, felem, tentu ada pertanggungjawaban besar, khususnya terkait representasi, sampai siapa yang diuntungkan, untuk apa cerita atau karakter hadir dan hilang beserta agensinya, buat apa menaikkan suatu isu, dan pertimbangan-pertimbangan lain.

Ada dialog yang menarik di film ini: “pion tuh ga boleh mundur, harus dikorbanin, namanya juga rakyat kecil”

Oke dialog ini satir, bagaimana di kehidupan nyata bernegara berkesatuan REPUBLIK INDONESIA RRAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH🦅🦅🦅 ini rakyat kecil sering dikorbankan untuk melindungi rajanya.

Oke, bener, tapi film ini memperlakukan hal yang sama terhadap karakter-karakter kelas bawahnya. Alih-alih punching up, ia justru punching down ketika filmnya terlalu fokus bertubi-tubi melakukan pembunuhan untuk menyampaikan pesan katanya. Alih-alih mengata-ngatai para pejabat oligarki, GITC lebih menggambarkan bagaimana cara pandang oligarki pada rakyat biasa melalui penggambaran karakter penghuni penjara kelas C yang dibuat karikatural, one dimensional, mudah tersulut emosi impulsif, gampang berpecah-belah, mudah ditakut-takuti untuk bertuhan, cepat merasa bersalah setelah melakukan kesalahan, neriman, dan diperhamba uang. Sedangkan representasi oligarki digambarkan mudah memperalat mereka dan menciptakan musuh-musuh buatan dalam bentuk penjahat kecil; sipir dan kepala sipir. It feels like they don't know how to say anything towards THEM rather than "koruptor is bad ig."

Oke, ketika memang puncaknya adalah kematian koruptor penambang nikel Kalimantan, menjadi patung Themis. Namun, ya rasanya, seperti ya sudah… bukan sebuah perlawanan yang revolusioner, terlebih yang membunuh adalah sosok liyan. Sedangkan rakyat di luar dibiarkan bergaduh saling bunuh dan menunggu berharap ada keajaiban ilahiah yang menggulingkan oligargi. Oh lucunya negri ini…

Kalau begitu buat apa sih kita menertawai dan bertepuk tangan tiap penghuni penjara dibunuh? Padahal kesalahan mereka hanya sebatas latar belakang karakter dan filter aura merah. Oh sungguh mahakarya yang kreatif.

Ngomong-ngomong soal pembalakan hutan, penambangan, dll yang dilakuin sama oligarki. Kemaren-kemaren kan sempat kena semprot tuh katanya marketingnya riding the wave bencana Sumatra (mau ini scrip udah 6 tahun lalu tapi tetap saja, lebih baik liat situasi yes kapan harus dikeluarkan 🙏). Ah.. tapi kenapa di filmnya rasanya sebatas latar belakang ya? Di awal si jelas menyebutkan ada isu ini, tapi makin lama semakin kabur, yang dibahas bukan lagi masalah lingkungan, tapi logika mistika, agama, dan karikatur rakyat endonesah. Yaaaaaaa lagi-lagi isu lingkungan cuma sebatas latar belakang si hantu dan Arswendi yang nama belakangnya ada …buming-bumingnya itu. Ah… siapa ya…

Yang lucu, abis marketing riding the wave-nya itu kena backlash, materi promosi kebanyakan pakai karakter Novilham (Magistus Miftah). Wow something queer! Esp dari penulis Arisan dan yang bikin hero film Kala adalah seorang homoseks. Ah sialan ujung-ujungnya kenapa cuman jadi queerbait ya, ada apa Jok? Malah ini melanggengkan presepsi homofobia. Kan kebanyakan orang suka tuh ngait-ngaitin penjara yang isinya cuman cowok (ni film all cast cowok semua anjir) ada perilaku homoseksual. GITC sayangnya menjadikan ini semacam plot device yang komedik (WTF) di karakter Tokek (Aming). Belum lagi adanya sexual assault terang-terangan diperlihatkan Tokek ke Dimas (Endy Arfian) sebanyak 2x: di dalam lapas dan ruang mandi [insert meme spongebob dont drop the soap]. Di sini stance pembuat film dipertanyakan, mengapa adegan ini perlu dipertontonkan secara gamblang, tanpa adanya trigger warning. Ini jelas-jelas terlalu mewajarkan dan membiarkan. Ntm nudity and forced nudity WHAT THE HELLLLL. Oh and Magistus? Slaayed, tapi sayangnya yaudah tetekedes tetekedes, dan dijadiin buat comedic purpose aja, tariannya yang indah itu dan dibunuh tanpa kejelasan kesalahan/dosa dirinya. RIP 🥀

Last, sebenernya Ghost In The Cell ini untuk apa? Miniatur endonesah? Tapi presentasinya aja penjara American banget, Ya inilah alienasi diri kita yang terasing dari presentasi penjara di negri ini. Apakah ini benar-benar menyentuh permasalahan di penjara kita? Apakah ada pertimbangan, keberpihakan, dan kepedulian representasi penjara di film ini untuk memanusiakan para penghuni penjara yang sudah dicap sebagai sampah masyarakat? Nyatanya sepanjang durasi satu jam setengah, kita hanya ditampilkan penghuni penjara dengan segala latar belakang kejahatannya yang saling bunuh, saling mati, dan cara pandang yang melihat mereka selayaknya hewan yang perlu disuruh bersih-bersih sampai kinclong dan tidak boleh punya aura negatif. Oh malangnya character sheets mu.

Oh NTM hehe the way this penjara panoptical dan teaser Pengabdi Setan 3: Origin dengan mercusuarnya ituh. Entah ini POV penonton sebagai pengawas di panoptical dan mercusuar atau kita ditaruh dalam POV oligarki si pengawas, oh ya… ya… Pintu Terlarang anying



Where To Watch
xxl-logo