Dira (Mawar De Jongh) dan Darin (Rey Bong) tumbuh di bawah atap “Soto Bu Lia”: sebuah rumah warung yang tampak akrab dari luar tapi dipenuhi bisu kata-kata yang tak sempat diucap dan janji-janji yang selalu meleset. Yudi (Dwi Sasono) ada di sana, tapi kehadirannya tidak pernah memberi arah, Lia (Unique Priscilla) bekerja tanpa henti, menutupi utang dan luka keluarga agar tampak utuh untuk anak-anaknya. Kenangan awal mereka manis dan sederhana, namun di bawahnya tersimpan kekosongan yang menunggu pemicu. Segalanya berubah saat sebuah insiden dalam rumah, ledakan kompor yang brutal menghantam langsung rutinitas keluarga. Lia terluka parah, penopang utama rumah tangga runtuh. Lalu rumah menjadi rumah sakit darurat, dan beban biaya medis menjulang. Momen itu membuka pintu ke kerapuhan yang selama ini disembunyikan, utang yang menumpuk, ketidakpastian, dan kebenaran yang tak lagi bisa ditutup dengan senyum. Dari situ kehidupan keluarga yang semula berputar dalam kebiasaan dipercepat menjadi darurat, dan Dira ditarik ke garis depan perjuangan.
Based on cerita novel. Secara premis, tema ceritanya bukan tema yang baru. Konflik utamanya juga termasuk konflik yang generik. Beberapa subplot dan background karakter cukup terdeskripsikan dengan jelas, lumayan ngasih empati penonton. Twist menuju babak akhir lumayan ngehook dan bikin ceritanya lebih beda dan lebih kompleks. Konklusinya lumayan ninggalin impact, build up ceritanya mencoba untuk gak ngasih banyak detail tapi treatment di akhir cukup berhasil. #AyahIniArahnyaKeManaYa