Desa Latas, sebuah desa kecil di pinggiran kota, dikenal dengan pesta kerasukan, sebuah tradisi turun-temurun yang sudah lama jadi bagian dari kehidupan dan hiburan warganya. Ketika mata air keramat tempat para Perasuk mencari roh mulai terancam digusur, Bayu (Angga Yunanda) bertekad buat jadi Perasuk Utama yang akan memimpin pesta besar-besaran demi mengumpulkan dana untuk menebus kembali mata air itu. Tapi di tengah perjalanannya, Bayu sadar bahwa ambisi saja tidak cukup buat menjadikannya Perasuk sejati, apalagi buat menyelamatkan desa yang ia cintai.
“Kupu menclok di atas tanduk”
“Cari emas sampai mampus!”
…
“...gawean, cicilan, … bareng-bareng kita lupain di alam sambet”
Tak perlu waktu lama, layar yang masih hitam dan lambang-lambang rumah produksi bermunculan, manifesto Para Perasuk ditabuhkan. Sejalan dengan jualan sang sutradara, Wregas Bhanuteja, bahwa ini adalah film di mana lo bisa seneng-seneng dengan kerasukan—melalui siniar Underdog Podcast.
Ini adalah hiburan, eskapisme, sebuah ruang untuk sementara melupakan. Banyak yang meyakini film dengan pemahaman demikian, fungsinya untuk menghibur totok, ideologi dan istilah “wokeness” bagi sebagian ditolak. Apakah eskapisme harus absolut melepas dari segala wacana permasalahan?
Para Perasuk rasanya seperti mengajak pemirsanya untuk berlibur ke Bali nan eksotis, menikmati tradisi, melihat kecantikan, dan melatih tubuh mengikuti tabuhan dengan tujuan menyembuhkan diri. Namun, melupakan masalah yang dasarnya sistematis, bahkan menjangkiti warga lokalnya untuk turut menahan diri dan menerima nasib demi sebuah keelokan.
Merasuk sebagai Budi Pekerti
Muklas Animalia (karakter film Budi Pekerti, diperankan oleh Angga Yunanda) hadir kembali sebagai Bayu dengan slompretnya. Ia kini tidak berada di depan siaran langsung Tiktok untuk menjual produk dengan metode healing mengikuti sifat binatang. Namun, ia lah yang mencari roh binatang dan menjadikannya untuk merasuki para pelamun. Keduanya meski dengan metode yang berbeda, tetapi serupa, yakni menjadi binatang sebagai prosesi healing dan pencarian jawaban. Pendekatan yang merupakan absurdisme manusia yang mencari jawaban dari alam semesta dekat dengan bagaimana manusia meneliti burung untuk bisa terbang melalui pesawat atau hikayat abrahamik tentang Cain dan Habel yang dikirimi burung gagak untuk belajar menghormati jenazah saudaranya.
Penciptaan konsep roh hewan bukanlah sesuatu yang asing pula, meski Wregas menciptakan dunia Para Perasuk dari khayal. Cerita pencarian roh ini dekat dengan bagaimana cerita kakek saya sendiri pada masa perjuangan, teman-temannya memiliki “cekelan” (pegangan) berupa roh hewan yang menjadi pelindung dalam peperangan. Roh pegangan ini menjadikan mistisisme dan kekuatan gaib sebagai senjata bagi rakyat yang tidak punya akses ke senjata api. Kepemilikan roh memberikan rasa aman ontologis yang merupakan resistensi pasif di bawah kekerasan fisik maupun sistemik.
Guru Asri (Anggun) menyatakan sambetan bertujuan untuk menghilangkan marah, dendam, dan ngamuk demi mencapai kebersihan hati serta rasa nyaman; yang sedih jadi baekan. Ini adalah koreografi sosial sebagai penggerak mobilitas masyarakat. Pesta sambetan menjadi penggerak sosial yang padu; synchronized, dengan gerakan-gerakannya yang sama persis, beberapa menyebut gerakan sambetan Para Perasuk tak lain sebagai olah rasa (bagian dari proses pra performance atau pertunjukan teater). Melalui lamunan dan alam sambet, seorang guru dan perasuk mampu mengontrol gerak masa. Meski para pelamun merasakan siksa secara langsung di alam fisik, tetapi otoritas lain mampu menciptakan penerimaan kekerasan sebagai sebuah kenyamanan.
Ini bukanlah kali pertama Wregas bermain-main dengan roh maupun gerakan-gerakan koreografi mistisme. Sebelumnya, ia pernah mengangkat roh Lembusura, penjaga gunung Kelud dalam film pendek meta-nya. Sebagaimana kritik-kritik self-orientalisme sejak film pendeknya, termasuk Lembusura (2015). Lembusura—yang penampilannya direduksi sedemikian rupa nan jauh dari penggambaran lokalnya menjadi topeng etnik primitif karikatural—maupun pesta sambetan Desa Latas (tempat fiktif buatan dengan jarak tempuh 2 jam dari Jakarta) keduanya direimajinasi dan didekonstruksi sebatas pada form-nya. Sambetan Desa Latas merupakan rekaan baru, bukanlah sesuatu yang sudah ada dan mudah direkognisi penontonnya, entah apakah ini Jathilan, Reak, Ebeg, atau Bantengan? Kecenderungannya untuk auto-erasure demi sebuah universalitas dan keberterimaan karyanya untuk masa yang lebih luas (barat).
Dalam imajinasi Wregas, alam sambet diejawantahkan dalam visual galore dan beberapa penggunaan CGI; alam penuh bunga bak iklan pewangi pakaian, tiang yang berubah menjadi boneka kera raksasa, makanan barat seperti croissant, ruang pijat spa, melayang-layang di udara, sampai pemandian cuci semprot otomotif. Imaji-imaji ini dihadirkan meski terdengar absurd, tetapi dekat dengan bagaimana masyarakat subaltern memimpikan keinginan mereka yang dibatasi oleh pengetahuan dan posisi kelasnya. Bahwa standar “surgawi” atau kenyamanan mereka adalah apa yang sudah dimiliki oleh kalangan atas dan pengaruh media pop seperti iklan dan film.
Banyak yang berpendapat dan setuju bahwa Para Perasuk penuh dengan visual-visual cantik, indah, penuh warna dan menyorot kesurupan sebagai sesuatu spektakel yang menyenangkan. Namun, penyajiannya nan estetis membius mata pemirsanya, justru perlahan mengaburkan permasalahan sistemiknya yang perlahan menjadi latar belakang belaka. Penonton terbuai dalam eskapisme yang malah menjadi peredam wacana perlawanan sosial.
Apa yang disebut sebagai alam sambet ini ialah yang dikritik oleh Marx sebagai opium bagi masyarakat, yakni menjadi candu untuk kabur dari masalah dan traumanya. Sebagaimana Laksmi (Maudy Ayunda) yang memilih untuk terus nyeker dan meminta Bayu untuk me-nyambet-nya. Ketika alam sambet telah dikooptasi untuk hanya digunakan sebagai medium penyembuh, masyarakat menjadi ketergantungan untuk terus dijinakkan dalam kenyamanan. Hal ini memengaruhi bagaimana sambetan menjadi aspek kognitif, afeksi emosi dan perasaan, serta perilaku masyarakat yang “berbudi pekerti.”
Prosesi sambetan yang menihilkan distraksi dan melupakan masalah menjadikan masyarakat semakin terasing dengan masalah yang sistemik. Konflik Para Perasuk semulanya merupakan perlawanan terhadap upaya PT Wanaria yang akan membeli hak milik mata air roh yang berdampak langsung pada sawah warga. Namun, konflik yang berjalan justru semakin lama menjadi apolitis yang mengerucut pada internalisasi pemaafan diri sendiri alih-alih mengurai permasalahannya secara sistemik. Upaya menghilangkan distraksi bagi para pelamun mengasingkannya secara absolut dari gegar di sekelilingnya dan menjadikan perlawanan terhadap ketidakadilan sosial menjadi tumpul.
Kooptasi penggunaan sambetan sebagai koreografi sosial yang bergerak secara sinkron, terarah, dan teratur untuk tujuan penyembuhan menciptakan keteraturan yang semu demi menjaga status quo, yakni desa yang “kalem dan seneng hidup kaya gini meski kurang gizi”—sebagaimana dalam bait kedua lagu Desa Latas. Sedangkan yang bergerak tak searah menjadikan kekacauan sosial. Sebagaimana Bayu dalam pencarian roh lintah ia harus kabur bergerak melata dari kerumunan demonstrasi, tetapi ketika roh lintah didapatkan dan dirasa tidak sesuai dengan budi pekerti setempat, maka kekacauan timbul, seperti Laksmi yang kesurupan memakan ternak. Kekacauan dan perlawanan ini menjadi suatu yang dihindari oleh Wregas dan Desa Latas.
Tak ada yang jahat di kota ini
Sungguh disayangkan ketika di awal, Para Perasuk menjual sebuah perlawanan sistemik, tetapi pada akhirnya ia terjerumus hanya sebatas sebagai hiburan senang-senang untuk healing sementara. Bahkan Wregas sendiri menyatakan dalam siniar Underdogs Podcast sebagai bermain dengan roh dan upayanya untuk penyembuhan diri yang sempat terjerumus pada obsesi dengan cara memaafkan diri sendiri.
Para Perasuk justru menjadi apa yang dikritik salah satu film pendek Wregas, Tak Ada yang Gila di Kota Ini (2019)—film yang sama mendapat kritik sebagai objektifikasi dan eksploitatif. Alih-alih merayakan sebuah budaya pesta kesurupan, ia justru punching down, bahkan terkesan meledek dan upayanya mendekonstruksi budaya menjadi sesuatu yang formalis nan universal—kehilangan identitas dan jati diri budaya sosialnya. Ketika Bayu pergi ke Jakarta misalnya, keluarganya mengejek sambetan sebagai sesuatu yang udik dan gaze eksotisme yang melanggengkan bagaimana cara pandang “masyarakat modern.”
Ketika membicarakan penyembuhan diri sendiri, khususnya bagi Laksmi, perempuan, penyintas kesehatan mental, perlakuan naskahnya mengeksploitasinya sebagai plot device untuk mengisi kekurangan dari hasrat Bayu, seorang pria. Traumanya beberapa kali dimunculkan sebatas untuk menciptakan romansa dan menjadikan konflik perseteruan Bayu dengan Pawit (Chicco Kurniawan) bergerak. Sedangkan trauma Laksmi sendiri justru menjadi kekacauan dengan konklusi yang serba digampangkan.
Lantas pada wacana korporasi sebagai “musuh” utama dihadirkan dengan sangat payah. Naskahnya justru menampilkan korban (Desa Latas) dalam wacana masyarakat yang pada akhirnya kalah dengan janji uang yang diberikan dan beresiliensi; nriman, nrimo ing pandum. Alih-alih—jika tujuan utamanya sebagai perlawanan sistemik—untuk fokus menampilkan bagaimana warga desa mengusir korporasi dari desa, Para Perasuk justru menampilkan perselisihan antar para perasuk bahkan menampilkan sajian thriller sampai pria hamil yang mengeluarkan janin dari dalam perutnya karena ilmu roh yang dimilikinya. Semua dekonstruksi perasuk yang cukup repetitif telah mengaburkan permasalahan yang sistemik.
Dengan konsep utamanya untuk menjadi (roh) hewan, secara tidak langsung mengasosiasikan warga desa/masyarakat kelas bawah sebagai hewan. Bahkan utusan PT Wanaria, Fahri (Ganindra Bimo) melihat proses pencarian roh oleh para perasuk sebagai sesuatu yang eksotis dan ia juga ingin mendapatkannya. Di sini terlihat jelas bagaimana ketimpangan kuasa direpresentasikan; warga desa sebagai hewan dan korporasi ingin untuk menangkapnya. Sebagaimana penutup film ini yang menjadikan korporasi berhasil menangkap pesta sambetan, menempatkannya di habitatnya yakni air mata roh, dan menjadikannya sebagai tontonan turis, sama persis dengan Tak Ada yang Gila di Kota Ini (2019)
Yang menjadi masalah, di tengah maraknya persekusi oleh aparat terhadap kritik pada pemerintahan Prabowo-Gibran, film ini malah memberi afirmasi. Rentetan peristiwa sambet-menyambet dengan segala animalianya menjadi omong-kosong healing/wellness yang ujung-ujungnya menyelesaikan masalah masa lalu diri, alih-alih melawan strukturalis yang direduksi "aparat bukan pendosa, mereka hanya menjalankan tugas, maka rangkullah." Konklusinya justru menjadi “so-called political correctness” yang menjadi bumerang sebagai legitimasi kekerasan sistemik. Meski jelas menyebut “menjalankan tugas,” istilah ini hanya sekadar digunakan untuk memaafkan tukang pukul dan hanya berhenti di sini, alih-alih menghukum siapa pemberi tugas. Malah korporasi masih tetap berkuasa di Desa Latas dan mengganti aparat yang satu dengan aparat yang lain.
Rumah-rumah yang sudah terlanjur digusur dan tak jadi dibangun?
Ya sudah… sudah terjadi… kan hak milik sudah dibeli PT.
Terus apa?
Atau memang itu seharusnya yang menurut dia sesuatu adiluhung?
Ada-ada saja akal bulus.