Di tahun 2100-an, ketika krisis air mengancam masa depan Bumi, Pelangi—anak pertama yang lahir di Mars—memulai sebuah petualangan bersama robot-robot malfunction yang menjadi sahabatnya untuk menemukan Zeolit Omega, mineral langka yang dipercaya dapat menyelamatkan masa depan Bumi. Namun dalam perjalanannya, Nerotek—korporasi raksasa yang menguasai sumber air—melakukan segala cara untuk merebut penemuan tersebut.
Sangat mengapresiasi niat Pelangi di Mars dengan premisnya dan berani untuk membuat film bergenre sci-fi yang sangat jarang ada diindustri film Indonesia, tapi yang sangat disayangkan adalah naskahnya yang masih jauh dari kata bagus.
Naskahnya terasa terlalu maksa untuk menyelipkan hal viral ke dialognya sehingga membuat dialognya terasa cringe, sang penulis juga rasanya mau masukin "hal-hal wajib ada di film sci-fi" ke naskahnya dengan asal, tanpa pertimbangan dan beberapa serba tiba-tiba. Fase dalam filmnya juga terasa berantakan terutama difase menuju klimaks serta klimaksnya yang serba tiba-tiba dan terasa antiklimaks.
Untuk animasinya, sebenarnya beberapa cukup bagus cuman masih banyak juga adegan yang terasa masih "canggung" dan kaku, beberapa adegan gerakannya terasa inkonsisten tapi untuk yang satu ini masih bisa dimaafkan sih. Yang agak disayangkan, sound-effects dari filmnya terasa las dan minim sekali (entah ini pengaruh film atau studio tempatku menonton) sehingga membuat filmnya tambah tak bernyawa.
Jelas Pelangi di Mars masih jauh dari kata bagus, tapi isi filmnya masih layak diapresiasi selain penggunaan AI difilmnya.