Enam tahun setelah kecelakaan lift kantor yang menelan banyak korban jiwa, PT Jamsa Land kembali diteror. LINDA (Ismi Melinda), staf humas perusahaan, terjebak di dalam lift dan dipaksa menghadapi suara misterius dari interkom. Anaknya disandera, dan Linda tak punya pilihan selain mengikuti permainan berbahaya yang perlahan membuka rahasia kelam tragedi enam tahun lalu.
Lagi-lagi perempuan dijadiin korban di dunia male centered ini
Di awal-awal aja langsung bahas tete gede nempel jendela *Halooo kak Anthy
Politik dan permainan catur selama ini kuat dengan maskulinitas, tapi bidak ratu biasa dipakai jadi kuncian. Meski tak sesubstansial Autobiography (Makbul Mubarak, 2022), alegori permainan catur dipakai dalam pembakakan cerita Lift yang ditulis Aria ini, dan selayaknya bidak catur ratu, perempuan dijadikan tameng dan senjata dalam permainan pria.
Linda, seorang perempuan, selingkuhan, dan ibu dijadikan senjata naskahnya sebagai karakter utama yang sayangnya masih pasif, pasrah, penurut, korban dalam wacana male gaze dan menciptakan kisahnya dalam bingkai perfect victim untuk menggaet simpati. Sedangkan perempuan lain dihadirkna sebagai trope karakter penggerak pria; aspri seksi, perempuan yang tak mau hamil, sampai kematian 3 perempuan menjadi penggerak utama karakter pria antagonis.
Sampai kapan film "politis" Indon ga make cewek cuma jadi objek simpenan pejabat cowok seksis