Seorang remaja dengan sikap memberontak dan seorang pengasuh yang dikenal pendiam perlahan membangun kedekatan yang tak pernah mereka duga sebelumnya. Bertemu di sebuah panti asuhan, keduanya dipertemukan oleh luka masa lalu yang sama-sama belum pulih.
Selayaknya film-film Netflix original, dia terlalu banyak telling, bahkan di momen krusial penyelamatan percobaan bunuh diri justru diiringi musik uplifting bak road trip adventure dan setor hafalan nama-nama malaikat, anehanya yang paling terkenal, Gabriel, malah belakangan?
Entah mungkin karena terlalu terpaku judul "surat untuk masa mudaku" filmnya mungkin akan lebih sensitif jika benar-benar fokus pada persamaan mental Kefas dan Simon tanpa perlu melihat masa depan mereka yang menggangu karena cukup berjarak dengan timeline utama. Bahkan si surat untuk masa mudahku dibacakan, tidak memberikan kesan apapun atau memberi makna baru dan rasanya tidak perlu ada karena rangkaian kejadian sebelumnya sudah memberikan jawaban.
Untuk topik seberat ini (and they should put TW suicide attempt) lagi-lagi terlalu disederhanakan sebagai akibat kesepian dan solusinya yang pakai ceramah-ceramah rohani berbau syukur sama lagu Kidung. Padahal topik found family dan mental condition begini seharusnya bisa memberi ruang untuk karakternya grow tanpa perlu menjual harapan dan kehangatan yang semu; i.e seperti film-filmnya Kore Eda. Konflik antara Simon dan Kefas pun tak diberi ruang yang lebih reflektif dengan sedikitnya konfrontasi dan mudahnya rekonsiliasi. Ya... atau memang filmnya tidak siap untuk menjadi bleak dan religion realy plays such a big role here ya...