Di tengah masa remajanya, RAMA (16), seorang remaja pemberontak, memandang dunia sebagai musuh. Keyakinannya bahwa semua orang menentangnya hanya mereda berkat kehadiran ibunya—satu-satunya sekutu yang ia miliki dalam hiruk-pikuk kehidupan remaja. Namun, ketika tragedi menimpanya dan merenggut sosok yang paling ia andalkan, Rama dipaksa menghadapi kehidupan seorang diri. Dalam kesendiriannya yang baru itu, muncul secercah ketenangan melalui kehadiran i-BU—sebuah program AI buatan temannya yang dirancang menyerupai kehangatan dan kenyamanan sosok sang ibu.
Esok Tanpa Ibu berhasil jadi film drama yang hangat dan indah sekali dari segala sisi.
Performa pemainnya luar biasa bagus, naskahnya yang ditulis oleh Gina S. Noer, Diva Apresya dan Melarissa Sjarief juga solid dan rapi. Paling suka dengan penulisan karakternya yang detil dan gimana suka juga sama cara ngeleburin unsur teknologi ke konfliknya. Kekurangan naskahnya mungkin ada dibabak kedua filmnya yang kerasa agak kepanjangan, tapi kekurangannya masih sangat dimaafkan lah.
Selain cerita dan performa akting, kualitas teknis nya Esok Tanpa Ibu juga bagus banget dan berhasil mempercantik filmnya. Dari scoring, soundtrack, sinematografi, warna filmnya, semua bagus dan makin memperkuat naskahnya.