Di tengah masa remajanya, RAMA (16), seorang remaja pemberontak, memandang dunia sebagai musuh. Keyakinannya bahwa semua orang menentangnya hanya mereda berkat kehadiran ibunya—satu-satunya sekutu yang ia miliki dalam hiruk-pikuk kehidupan remaja. Namun, ketika tragedi menimpanya dan merenggut sosok yang paling ia andalkan, Rama dipaksa menghadapi kehidupan seorang diri. Dalam kesendiriannya yang baru itu, muncul secercah ketenangan melalui kehadiran i-BU—sebuah program AI buatan temannya yang dirancang menyerupai kehangatan dan kenyamanan sosok sang ibu.
Film dengan genre sci fi memang jarang digarap di Indonesia, jadi keberanian film ini untuk mengangkat tema sci fi digabung dengan drama itu sudah memberikan keunikan tersendiri
Meskipun genre film ini sci fi, film ini justru memiliki penuturan yang sangat dekat dengan keseharian, sisi sci fi dan futuristiknya tidak diumbar dan hanya digunakan pada beberapa bagian, dan itu membuat penonton jadi mudah untuk masuk dan relate dengan cerita film ini
Tapi rasanya, film ini akan lebih terasa emosinya bila beberapa sub plotnya dirampingkan dan lebih fokus dengan tema utamanya mengenai kehilangan yang berakibat pelarian dan ketagihan dengan teknologi, dengan cerita yang sekarang, terasanya beberapa sub plot hanya kerasa di permukaan saja dan kadang chemistry antar beberapa karakternya terasa kurang alami